Heboh Tren "Quiet Quitting" di Kalangan Gen Z: Bos Banyak yang Kena Mahjong Ways, Harus Pintar Menyusun Strategi Retensi Karyawan
Pagi itu, ruang kantor PT Bumi Kreasi Digital terasa berbeda. Kopi di gelas masing-masing sudah mengepul sejak jam delapan, tapi semangat yang biasanya terlihat dari deretan karyawan muda di divisi kreatif seakan sedang tertidur. Andi, manajer sumber daya manusia yang sudah lima belas tahun berkutat di dunia korporat, merasa ada yang ganjil.
“Mas Andi, boleh ngobrol sebentar?” suara Rara, salah satu desainer grafis andalan, menyela lamunannya.
Andi: “Eh, Rara. Silakan, duduk. Ada apa?”
Rara: “Gini, Mas. Gue mau ngasih tahu aja… mungkin bulan depan gue akan mulai cari-cari peluang lain. Tapi belum pasti sih, cuma lagi ngerasa… capek aja.”
Andi menghela napas. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar kalimat seperti itu dalam tiga bulan terakhir. Tren quiet quitting yang viral di media sosial ternyata bukan sekadar isu. Ini nyata. Anak-anak muda generasi Z di perusahaannya mulai melakukan perlawanan diam-diam: bekerja sesuai job desc, tidak lebih, tidak kurang. Pulang tepat waktu, tidak menjawab notifikasi kerja setelah jam kantor.
Di sisi lain kantor, dua anak magang, Caca dan Bima, sedang asyik ngobrol di pantry sambil memanaskan bekal.
Bima: “Lu liat nggak, semalem postingan Pak Fajar story-main Mahjong Ways? Parah,” bisik Bima sambil nyeruput kopi.
Caca: “Iya gue liat. Bos main slot sampe jam dua malem, padahal paginya dia briefing kita soal pentingnya dedication dan loyalitas.”
Bima: “Nah, ini masalahnya. Mereka yang tua-tua itu mikirnya kita males, padahal kita cuma pengen dihargai secara adil. Masa kita lembur sampe subuh, bosnya malah asik main slot online pake duit perusahaan? Mana adil?”
Caca mengangguk paham. “Gue setuju. Tapi gue juga mikir, quiet quitting itu bukan solusi jangka panjang. Gue pernah baca, ujung-ujungnya kita yang rugi. Portofolio nggak nambah, skill mentok, yang ada kita makin terjebak di posisi yang sama.”
Percakapan mereka terhenti ketika Pak Deni, kepala divisi yang usianya hampir lima puluh tahun, masuk ke pantry. Biasanya, sosok senior seperti Pak Deni dianggap “kuno” oleh anak-anak muda. Tapi kali ini, Pak Deni justru duduk di samping mereka.
Pak Deni: “Ngomongin quiet quitting ya?” tanya Pak Deni santai.
Caca & Bima: (agak kaget) “Eh, Pak Deni… iya, Pak. Ngobrol biasa aja.”
Pak Deni: “Tenang aja, saya nggak akan marah. Saya lagi mikir juga gimana caranya kita jembatin ini. Jujur, saya lihat memang ada yang salah dari sistem kita.”
Pak Deni lalu bercerita bahwa seminggu yang lalu ia mengadakan obrolan santai dengan tiga karyawan Gen Z di divisinya. Salah satunya bernama Dito, seorang fresh graduate yang pintar tapi belakangan kinerjanya menurun drastis.
“Waktu saya tanya Dito kenapa jadi pendiam, dia bilang gini: ‘Pak, saya ngerasa kerja saya nggak pernah cukup. Setiap kali selesai target, ditambah lagi. Gaji naiknya nggak sebanding. Bos main judi online pake duit operasional, tapi saya disuruh lembur tanpa bayaran.’ Saya waktu itu terdiam, karena dia benar.”
Caca menimpali, “Nah, itu Pak. Kita nggak anti kerja keras. Kita anti dimanfaatin.”
Pak Deni menghela napas. “Saya ngerti. Makanya sekarang saya lagi coba bikin sistem baru. Bukan cuma reward materi, tapi juga transparansi. Saya juga udah ngomong sama Andi di HR, mungkin perlu ada pelatihan buat para manajer soal leadership yang lebih manusiawi.”
Bima yang tadinya skeptis, mulai menunjukkan minat. “Trus solusinya gimana, Pak? Soalnya banyak temen gue di luar udah pada resign karena frustasi.”
Pak Deni: “Solusinya sederhana tapi susah diterapin. Pertama, pisahkan mana bos yang kompeten dan mana yang cuma bisa nyuruh. Kedua, kasih ruang buat anak-anak muda ngasih masukan tanpa takut dianggap ‘kurang ajar’. Ketiga… hentikan kebiasaan main slot atau judi online di lingkungan kantor. Itu racun. Bikin lingkungan nggak sehat, dan karyawan hilang respect.”
Sore harinya, Andi mengumpulkan seluruh manajer untuk rapat kilat. Ia mengundang Dito dan Rara sebagai perwakilan karyawan. Awalnya rapat terasa canggung, apalagi beberapa manajer senior terlihat kurang nyaman dengan kehadiran anak buah di ruang rapat.
Tapi Dito yang selama ini pendiam, berbicara dengan lugas.
Dito: “Maaf, saya nggak maksud menyerang. Tapi menurut saya, quiet quitting itu cuma gejala. Penyakitnya adalah burnout dan ketidakjelasan jenjang karir. Saya cuma pengen dihargai. Nggak harus dengan gaji besar, tapi dengan cara nggak dianggap mesin. Saya juga pengen punya waktu buat hidup di luar kerja.”
Rara: “Dan tolong… jangan ada lagi manajer yang pas rapat bilang ‘Anak jaman sekarang lembek’. Kita kuat kok. Tapi kita butuh alasan yang jelas bu apa kita harus nguras tenaga.”
Suasana hening. Pak Deni yang duduk di pojokan tersenyum kecil. Andi kemudian angkat bicara.
Andi: “Oke. Mulai minggu depan, saya mau buat pilot program: fleksibel jam kerja, evaluasi target yang lebih realistis, dan satu lagi—saya akan usul ke direksi untuk audit penggunaan dana operasional, terutama yang berkaitan dengan aktivitas non-work related kayak judi online. Kalau ada yang terbukti, saya akan ambil tindakan tegas.”
Rapat ditutup dengan perasaan lega, meski masih ada sedikit kekhawatiran di wajah beberapa manajer.
Dua minggu kemudian, perubahan kecil mulai terasa. Jam pulang kantor, beberapa karyawan masih bertahan, tapi bukan karena takut, melainkan karena mereka sedang ngerjain proyek yang memang mereka sukai. Rara mulai kembali menunjukkan semangatnya. Dito bahkan mengajukan ide kampanye baru yang disambut antusias oleh tim.
Di pantry, Bima dan Caca kembali ngobrol.
Bima: “Gila, Pak Deni keren ternyata. Dia beneran ngajuin sistem baru. Dulu gue kira orang tua tuh nggak bakal bisa ngerti.”
Caca: “Ya karena mereka akhirnya mau dengerin, bukan cuma ngasih tau. Itu kuncinya. Dan syukurnya, bos-bos yang suka main Mahjong Ways itu mulai pada di-warning.”
Bima: “Nah, itu dia. Kalo lingkungan udah bersih dari hal-hal kayak gitu, gue rasa anak muda mah happy kok. Kerja keras juga nggak masalah, asal fair.”
Matahari sore menyinari ruang kantor yang kini terasa lebih hangat. Bukan karena AC mati, tapi karena mulai ada rasa saling percaya yang dibangun perlahan.
Di ruang kerjanya, Andi menulis catatan kecil di buku: “Retensi karyawan bukan soal memaksa mereka bertahan. Tapi soal menciptakan alasan mengapa mereka ingin tinggal. Dan itu dimulai dengan mendengarkan, bukan menggurui.”
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Pak Deni: “Andi, thanks. Akhirnya anak-anak mulai tersenyum lagi.”
Andi membalas singkat: “Sama-sama, Pak. Ini baru awal. Tapi setidaknya kita di jalur yang benar.”
Di luar jendela, deru kota Jakarta tak pernah berhenti. Tapi di dalam kantor kecil itu, ada harapan baru bahwa generasi yang berbeda bisa saling memahami. Selama tidak ada lagi yang diam-diam pergi karena kecewa, selama para pemimpin berani introspeksi, dan selama integritas dijaga—quiet quitting bisa berubah menjadi quiet thriving.
Karyawan bahagia, perusahaan untung. Bos pun akhirnya sadar: Mahjong Ways bukan solusi, melainkan masalah.
