Heboh Dokter Spesialis Rela Tinggalkan Gaji Ratusan Juta, Hatinya Semanis Sweet Bonanza demi Mengabdi di Daerah Terpencil
✍️ Cerita dari Poso
⏺ 3 menit baca · Malam di pelosok
Pagi itu, udara di Poso terasa berbeda bagi dr. Arga Saputra. Bukan karena embun yang lebih tebal atau kicauan burung yang lebih ramai, tapi karena untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, ia merasa benar-benar sampai. Sampai di tempat yang memang ingin ia tuju, bukan sekadar tempat yang menerimanya karena tak punya pilihan lain.
Ia baru saja melepas jas putihnya yang biasa ia kenakan di rumah sakit swasta kelas atas di Jakarta. Di sana, gajinya bisa mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan. Dua mobil terparkir di garasi mewah. Istri dan dua anaknya hidup dalam kenyamanan yang tak pernah ia bayangkan saat masih kuliah dulu. Tapi ada yang mengganjal di dadanya. Sebuah rasa yang tak bisa ia beli dengan angka-angka di rekening.
— dr. Sari “Pak Arga, ini kopinya pahit lho, beda sama kopi mahal di kafe sana,” sambil tersenyum, Kepala Puskesmas Waturandang, dr. Sari, menyodorkan gelas plastik berisi kopi hitam pekat. Sari sudah 12 tahun mengabdi di daerah terpencil ini. Perawakannya kecil, tapi matanya tajam dan penuh energi.
— dr. Arga tertawa kecil. “Tidak apa-apa, Dok. Di sini saya yang harus belajar. Soal kopi, soal pasien, soal segalanya.”
Mereka duduk di teras puskesmas yang lantainya sedikit retak. Dari kejauhan, terdengar suara motor trail mendekat. Seorang pria paruh baya dengan helm setengah terbuka melambai-lambai.
— dr. Sari “Itu Pak Herson, kader kesehatan kita. Beliau yang paling tahu peta medan di sini.”
— Pak Herson turun dengan gerak sigap, lalu langsung menghampiri Arga. “Nah, ini dia dokter spesialis dari Jakarta yang heboh itu? Saya kira bawa rombongan, ternuma sendiri saja.” Ia menjabat tangan Arga keras-keras.
— dr. Arga merendah. “Hebohnya bukan karena saya, Pak. Tapi mungkin karena orang heran saya mau ninggalin fasilitas kota.”
— Pak Herson duduk di kursi bambu sambil mengusap keringat. “Heran? Wajar saja. Saya kan sudah 20 tahun di sini. Dokter yang datang, rata-rata sebulan dua bulan minta pindah. Ada yang sehari saja sudah minta dijemput lagi. Karena listrik mati, sinyal hilang, atau pasien datang pakai tandu darurat dari kebun.”
Sari menyela, “Tapi Pak Herson ini yang paling setia. Beliau yang meracik sendiri obat tradisional kalau stok puskesmas kosong.”
— Pak Herson hanya tersenyum. “Dokter Arga, saya dengar dari Bu Sari, gaji Bapak dulu bisa beli tanah satu kampung ini. Kenapa rela tinggalkan semua itu?”
Arga menyesap kopinya. Diam sejenak. Angin membawa aroma cengkeh dari kebun warga.
— dr. Arga pelan, “Karena... saya hampir lupa kenapa saya jadi dokter,” jawabnya pelan. “Di Jakarta, saya hanya melihat pasien sebagai nomor antrean, sebagai target operasi, sebagai billing rumah sakit. Saya sakit hati sama diri saya sendiri.”
— dr. Sari langsung menambahkan, “Saya dulu juga merasa seperti itu. Setelah bertahun-tahun di sini, saya justru merasa kalau di kota saya tidak berguna. Di sini, saya tahu setiap pasien punya nama, punya anak, punya cerita. Bahkan saat obat habis, kita tetap bisa memikirkan cara lain.”
— Pak Herson mengangguk-angguk. “Saya cuma kader, tapi saya tahu bedanya. Dokter yang hatinya ikut datang, sama dokter yang datang hanya karena tugas. Saya lihat di mata Dokter Arga ini... matanya bersih. Seperti orang yang sudah tidak membawa beban.”
— dr. Arga menoleh ke arah Pak Herson. “Beban saya malah lebih berat sekarang, Pak. Tapi beban yang enak. Beban yang kalau saya selesaikan, saya tidur nyenyak.”
Percakapan mereka terhenti sejenak ketika seorang ibu muda datang sambil menggendong anaknya yang terlihat lemas. Buru-buru Arga berdiri, membuka pintu puskesmas. Ibu itu menangis, menjelaskan anaknya sudah dua hari demam dan kejang semalam.
Arga langsung mengambil alih. Dengan sigap ia memeriksa, bertanya, lalu berkoordinasi dengan Sari. Tak ada CT scan mewah di sini. Tak ada laboratorium lengkap. Hanya pengalaman, ketelitian, dan kerja sama.
Setelah anak itu stabil, Sari berbisik pada Arga, “Selamat datang di dunia nyata, Dok.” Arga hanya tersenyum sambil membetulkan sarung tangannya yang masih basah karena mencuci alat seadanya.
Menjelang sore, mereka bertiga kembali duduk di teras. Langit mulai jingga. Sari bercerita tentang mimpi membangun polindes di tiga titik terpencil. Pak Herson bercerita soal warganya yang kadang lebih percaya dukun dari pada dokter. Arga mendengarkan, sesekali tertawa, sesekali menghela napas.
— dr. Arga akhirnya, “Kadang saya mikir, dulu waktu saya main game di ponsel, ada yang namanya Sweet Bonanza. Warnanya ramai, penuh hadiah, bikin ketagihan. Tapi ini... kerja di sini, rasanya juga manis. Manis yang beda. Manis yang nggak cepat hilang.”
— dr. Sari terkekeh. “Aduh, kok malah game, Pak Dokter. Tapi saya paham maksudnya. Kenikmatan di sini memang bukan dari uang, tapi dari melihat orang yang tadinya kesakitan bisa tersenyum lagi.”
— Pak Herson sambil menatap Arga. “Dan dari melihat dokter yang datang bukan karena paksaan. Saya sudah tua, Dok. Saya ingin kampung ini punya lebih banyak dokter seperti Bapak.”
Arga mengusap wajahnya. Ada kelelahan, tapi juga ada kepuasan yang tak pernah ia temukan di ruang operasi ber-AC.
— dr. Arga “Pak Herson, Bu Sari... saya bukan pahlawan. Saya hanya orang yang capek hidup nyaman tapi kosong. Mungkin ini egois juga. Saya ke sini karena mencari ketenangan buat diri saya sendiri.”
— dr. Sari menjawab pelan, “Tidak apa-apa, Dok. Kadang kita perlu sedikit egois untuk akhirnya bisa berguna dengan tulus. Nanti juga terbiasa.”
— Pak Herson berdiri, merapikan sarungnya. “Yang penting datang dan bertahan. Gaji ratusan juta itu nomor dua. Yang pertama adalah hati yang ikut mengabdi. Dan saya lihat itu dari Bapak.”
Malam turun cepat di pelosok. Arga berjalan ke ruang kecil yang jadi tempatnya tidur. Sepi. Jauh dari gemerlap kota. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tak merasa perlu membuka ponsel untuk mencari hiburan. Cukup suara jangkrik dan kesadaran bahwa besok pagi ada pasien yang menunggu.
Ia tersenyum sendiri. Gaji ratusan juta mungkin sudah ia tinggalkan. Tapi hatinya yang dulu kering, kini mulai basah lagi. Semanis manisnya, kata orang, seperti game itu — tapi ia tahu ini lebih nyata. Ini adalah mengabdi.
Sepenggal pesan dari dr. Sari ke grup sesama tenaga medis malam itu: “Tadi kita kedatangan lagi pasien kejang, langsung ditangani dr. Arga. Orangnya tenang, nggak banyak gaya. Kayaknya dia memang benar-benar ingin di sini. Semoga betah ya.”
Pak Herson membalas dengan suara voice note yang kemudian ditulis ulang: “Saya sudah liat banyak dokter, tapi yang ini matanya jujur. Gaji besar ditinggal, demi kampung kita. Semanis Sweet Bonanza kali ya hatinya, hehe.”
~ dari pelosok dengan ketulusan, cerita yang terus mengalir