Geger "AI Jualan" ala Mahjong Ways: Influencer Virtual Kini Bisa Live Shopping 24 Jam, Ancaman atau Peluang bagi UMKM?
Kisah & Observasi📖 ± 7 menit membaca • Dari lapak ke digital
Pukul dua dini hari, ketika sebagian besar orang sudah terlelap dalam mimpi, Rina masih setia duduk di depan lapaknya. Sebagai pemilik UMKM keripik nangka khas Pontianak, dia sudah tiga tahun terbiasa bangun pagi untuk produksi. Tapi untuk urusan jualan online? Itu urusan lain. Biasanya, setelah magrib ia sudah tutup toko fisik, sesekali memegang ponsel, lalu tidur.
Sampai akhirnya, seminggu yang lalu, sepupunya yang kerja di agensi digital—Ayu—mengirimkan video yang membuat Rina merinding sekaligus geli.
Ayu: “Lihat ini, Na.” sambil menyodorkan ponsel di sela-sela acara buka puasa bersama, matanya berbinar penuh semangat. Di layar itu, seorang perempuan dengan rambut biru keperakan tersenyum ramah. Rambutnya berkilau seperti karakter game. Dia sedang memegang sebuah kemasan keripik, mempromosikannya dengan suara merdu dan bahasa yang mengalir begitu saja.
Rina: “Cantik amat. Influencer baru ya?”
Ayu: (tertawa kecil) “Ini AI, Na. Namanya Aira. Influencer virtual. Dia bisa live shopping dua puluh empat jam. Nggak capek, nggak butuh istirahat, nggak minta naik bayaran.”
Rina mengerjap. Matanya masih tertuju pada layar, menyaksikan sosok bernama Aira itu berganti-ganti outfit dalam hitungan detik, dari kebaya modern hingga hoodie kasual, tanpa pernah terlihat menarik napas. “Jadi dia nggak nyata?” “Nggak. Tapi lihat komentarnya. Orang pada percaya. Bahkan ada yang sampai kirim lamaran.” Rina merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan takut, tapi semacam firasat. Seperti dulu saat pertama kali mendengar marketplace masuk ke desa dan para pedagang pasar mulai mengeluh sepi pembeli.
Esok harinya, Rina mengajak suaminya, Arman, untuk duduk bareng. Arman lebih santai soal beginian. Sepanjang hari dia lebih banyak di kebun dan mengurus produksi, sementara Rina yang megang pemasaran.
Rina: “Gimana menurutmu?” sambil meletakkan ponsel di atas meja, masih memperlihatkan akun milik Aira yang sudah punya ratusan ribu pengikut.
Arman: (mengangkat alis, membaca beberapa komentar) “Wah, ini yang kemarin dibilang Ayu? Gila juga, ya. Bisa siaran langsung kapan aja.”
Rina: “Gue jadi mikir. Kalau kita sewa influencer virtual kayak gini, mungkin jualan kita lebih rame. Tapi di sisi lain... gue takut konsumen jadi makin jauh sama produk lokal. Mereka lebih milih beli dari yang promosinya pakai AI cantik daripada liat kita yang jualan pake muka pas-pasan.”
Arman terdiam. Tangannya mengusap dagu. “Lo liat keripik kita? Rasa udah juara. Tapi orang pertama kali liat produk kan dari promosi dulu. Kalau promosinya sekarang kayak gini, ya kita harus ngikutin zaman,” katanya pelan. “Tapi lo ingat teman lo si Maya? Yang jualan baju batik. Dia pakai AI juga katanya untuk bikin konten katalog. Hemat waktu, katanya.”
“Nah itu,” Rina menyambung. “Tapi Maya kan tetap orangnya yang pegang komunikasi sama pelanggan. Kalau AI ini, dia bisa jadi ‘wajah’ depan yang nggak pernah offline. Nggak ada sentuhan manusianya. Nggak ada obrolan receh kayak ‘Mbak, ini keripik pedas levelnya kaya apa?’ terus dijawab langsung sama kita.”
🌱 Catatan kecil dari Rina: “Mungkin aku terlalu cemas. Tapi jujur, lihat AI sepintar itu bikin aku mikir ulang: apa aku masih relevan jualan dengan cara lama? Tapi kemudian aku sadar, kehangatan ngobrol langsung sama pembeli itu nggak bisa diganti algoritma.”
Sore harinya, Rina memutuskan mampir ke toko Maya yang jaraknya cuma tiga gang dari lapaknya. Maya sedang melipat batik, sementara laptopnya menyala menampilkan sebuah aplikasi AI generator konten.
Maya: (menyambut dengan senyum lebarnya) “Eh, lagi pada ngomongin AI rupanya. Barusan ada yang nanya di WA, katanya lihat postingan batik baruku pake model AI, langsung kaget. ‘Ini beneran ada tokonya, Mbak?’ gitu.”
Rina: “Terus lo jawab apa?”
Maya: “Masa iya nggak ada, namanya juga jualan. Saya bilang, ‘Ini cuma visualisasi, Mbak. Yang jual ya saya sendiri, di sini, bisa datang langsung.’”
Arman yang ikut nimbrung menyelipkan pertanyaan. “Menurut lo, Maya, ini ancaman apa peluang buat kita para UMKM?” Maya menyandarkan tubuh, menarik napas panjang.
Maya: “Dua-duanya. Ancaman kalau kita cuma diem. Karena sekarang jamannya geser. Kalau kita nggak pakai AI, kita rugi waktu dan tenaga. Tapi kalau kita terlalu bergantung, kita bisa kehilangan kepercayaan. Saya sih pakai AI cuma buat bantuin bikin konten dan visual. Tapi live shopping? Tetap saya sendiri. Orang beli batik kan butuh cerita. Butuh lihat ekspresi saya pas nunjukin detail bordirnya. AI belum bisa kasih itu. Belum.”
Rina manggut-manggut. Perlahan, beban di pundaknya mulai terasa berkurang. “Maksud lo, kita manfaatkan AI buat promosi yang ringan-ringan aja, tapi yang butuh kepercayaan tetap kita yang handle?” Maya mengedip. “Pintar. Dan satu lagi, jangan lupa. UMKM punya sesuatu yang nggak dimiliki AI virtual: keaslian. Cerita lo tentang nenek lo yang mulai bikin keripik dari dapur kecil itu? Nggak bisa direkayasa.”
💬 “AI itu alat, bukan pemilik cerita. Yang beli dari kita bukan cuma produk, tapi rasa dan cerita yang nempel.”
Di rumah, Rina membuka kembali video Aira. Kali ini dia melihatnya dengan cara berbeda. Bukan sebagai ancaman, tapi sebagai pengingat bahwa dunia sedang berubah cepat.
“Gue mau coba belajar,” katanya pada Arman. “Pakai AI buat bantu desain kemasan sama promosi harian. Tapi live shopping-nya kita jalanin bareng. Gue, lo, kadang Ayu. Biar orang tahu, di balik produk ini ada keluarga yang kerja keras.”
Arman mengacungkan jempol. “Setuju. Lagipula, AI secanggih apapun nggak bisa ngerasain garingnya keripik lo pas baru digoreng, kan?” Mereka tertawa. Dan untuk pertama kalinya dalam sepekan, Rina tidur dengan pikiran yang lebih tenang.
Dia sadar, teknologi bukan lagi soal bisa atau tidak. Tapi seberapa bijak memanfaatkannya. Antara membiarkan AI mengambil alih, atau menjadikannya mitra yang tetap menghargai sentuhan manusia.
Esoknya, Rina membuka lapak lebih awal. Dia menyapa pembeli satu per satu, seperti biasa. Tapi kali ini, di ponselnya, sebuah aplikasi AI desain grafis sudah terpasang. Siap jadi teman baru dalam berjualan. Ancaman atau peluang? Rina memilih menjawabnya dengan satu keyakinan: selama cerita dan rasa masih ada di tangan manusia, AI hanya akan jadi alat, bukan pengganti.