Fenomena "Sandwich Generation" Makin Parah: Hidup Terasa Seperti Sweet Bonanza, Manis di Luar Tapi Berat Menahan Beban Dua Generasi
— Cerita dari tiga sudut pandang yang mungkin dekat dengan keseharian kita.
Kopi di meja sudah dingin sejak setengah jam lalu. Tapi Rina masih duduk di kafe yang sama, jari-jarinya sibuk menekan kalkulator di ponsel. Lagi-lagi angka merah. Lagi-lagi gaji bulan ini habis sebelum tanggal tua benar-benar tiba.
“Kak, ini buat Mama bulan ini,” ucapnya dalam hati, mengingat pesan singkat yang dikirim pagi tadi ke rekening ibunya. Tiga juta. Belum termasuk biaya sekolah adik bungsu yang masih SMA. Belum lagi cicilan rumah yang sebenarnya atas nama almarhum ayah, tapi kini jadi tanggungannya.
Di depannya, Maya baru saja tiba. Wajahnya cerah, riasan sempurna, tas selempang bermerek melingkar di bahu. Sekilas, hidupnya tampak manis. Tapi Rina tahu persis—di balik penampilan itu, Maya juga sedang tenggelam dalam arus yang sama.
Maya: “Lu nggak bakal percaya,” ia melepas jaket dan duduk, “tadi pagi nyokap nelpon. Minta tolong biayain berobat. Padahal bulan lalu gue transfer buat perbaiki atap rumah yang bocor.”
Rina: Menghela napas. “Santai, Maya. Gue juga baru transfer ke nyokap. Adik gue butuh uang seragam dan les.”
Maya: “Dan mertua gue?” Maya tertawa pahit. “Mereka pengen umroh tahun ini. Sok-sok an bilang ‘nanti Allah balas’, tapi kan gue yang mikirin biayanya sekarang.”
Dua perempuan itu saling pandang. Di kafe yang terang dan ramai ini, mereka seperti sedang mengikuti pertunjukan sulap. Dari luar, manis seperti permen kapas. Tapi di dalam, ada beban yang menggantung di pundak masing-masing.
Namanya Sandwich Generation. Istilah ini mungkin terdengar modern, tapi rasanya sudah lama membayangi hidup mereka. Menjadi anak yang masih harus menafkahi orang tua, sekaligus—bagi beberapa—sudah punya keluarga sendiri yang juga butuh diperhatikan. Posisi diapit dua generasi. Manis di depan publik, tapi rasanya seperti jadi penopang tenda yang mau roboh kapan saja.
Rina: “Pernah nggak sih lu mikir, kenapa kita yang jadi generasi ini?” Rina memutar sendok di atas kopi yang sudah tak disentuhnya.
Maya: “Setiap hari,” Maya menyandarkan punggung. “Dulu bokap nyokap gue hidup pas-pasan. Mereka kerja keras biar gue bisa kuliah. Sekarang gue yang kerja, mereka lihat gue punya gaji lumayan. Masalahnya, mereka mikir gue punya banyak karena mereka lihat gue beli ini-itu.”
Rina: “Padahal?”
Maya: “Padahal hidup Jakarta sekarang nggak kayak zaman dulu. Harga semua merangkak naik. Tapi mereka nggak paham.”
Pembicaraan mereka terhenti ketika Gilang datang. Cowok itu terburu-buru, ransel di punggung masih menempel, napas tersengal. “Sorry telat. Rapat dadakan.”
Rina: “Nggak papa. Minum dulu,” memberi isyarat pada pelayan.
Gilang duduk, mengusap keringat di dahi. Dari tiga orang yang berkumpul sore itu, Gilang mungkin yang paling kompleks posisinya. Bukan hanya menanggung orang tua, tapi juga istri dan satu anak yang masih balita.
Gilang: “Gue lagi suntuk banget sekarang,” katanya begitu napas stabil. “Anak gue mulai masuk sekolah. Biaya pendaftaran, seragam, buku. Belum lagi orang tua gue minta dibuatkan kamar mandi baru. Rumah mereka udah tua, katanya.”
Maya: “Berdua doang sih,” Maya menyahut. “Lu kan cuma anak satu.”
Gilang: “Tepat. Makanya beban gue full. Nggak ada yang bisa bagi. Gue tuh mikir, gue sayang sama orang tua. Mereka udah tua, wajar minta dibantu. Tapi di sisi lain, gue juga punya keluarga yang gue bangun. Rasanya kayak main tarik tambang sendirian.”
Topik ini memang sedang hangat. Bukan hanya karena viral, tapi dialami banyak anak muda zaman sekarang. Ada yang seperti Rina: perempuan, anak pertama, ayah sudah meninggal, adik masih sekolah, ibu mulai pensiun. Ada yang seperti Maya: sudah menikah tapi belum punya anak, justru malah kena beban dari dua sisi orang tua—suami dan istri. Ada pula yang seperti Gilang: sudah punya keluarga sendiri, ditambah tanggungan orang tua yang menua dan kebutuhan mereka yang justru makin kompleks.
“Dulu gue pikir setelah kerja, hidup gue bakal lebih enak,” Rina memulai lagi, setelah keheningan singkat. “Ternyata enggak. Gue kerja kayak kuda, tapi uangnya bukan buat gue. Gue beli skincare aja mikir-mikir.”
Maya: “Lu masih bisa mikir-mikir,” Maya nyengir. “Gue mah sekarang skincare pake sabun bayi.”
Gilang: Tertawa kecil. “Gue mah sabun mandi aja kadang pake punya anak.”
Tawa mereka pecah. Sesaat, beban itu terasa ringan. Tapi Rina tahu, saat pulang nanti, semua akan kembali. Ada WA dari ibu menanyakan kabar—yang sebenarnya menanyakan kiriman. Ada tagihan listrik yang sudah masuk masa tenggat. Ada mimpi-mimpi kecil yang ditunda terus.
Gilang: melanjutkan, “Yang bikin gue capek, bukan cuma masalah duit. Tapi ekspektasi. Orang tua tuh kadang nggak ngerti kondisi kita. Mereka lihat dari luar seolah kita baik-baik aja. Punya mobil, tinggal di Jakarta, makan di kafe. Padahal… ya ini aja, makan di kafe pun kalau nggak ada yang traktir atau lagi ada rezeki, gue mikir dua kali.”
Maya: “Apalagi kalau ketemu keluarga besar,” tambah Maya. “Pasti ada yang nanya ‘kapan naik haji?’ atau ‘kapan beli rumah baru?’ Sementara gue sendiri lagi mikirin gimana caranya bulan ini bisa ngelewatin tanggal dua puluhan.”
Sore itu, mereka bertiga akhirnya sepakat untuk saling jujur. Tanpa basa-basi, tanpa gengsi. Rina bilang dia mulai menyisihkan uang untuk dana darurat, meskipun cuma sedikit. Maya mengaku sudah mulai belajar bilang “tidak” pada orang tua ketika permintaan dirasa terlalu berlebihan.
Gilang punya cara paling sederhana: “Gue sekarang bikin catatan pengeluaran. Gue tunjukin ke orang tua, ke istri, semua. Biar mereka lihat sendiri, duitnya kemana aja. Nggak perlu debat.”
Rina: “Terus mereka paham?”
Gilang: “Nggak langsung. Tapi lama-lama ngerti. Yang penting komunikasi.”
Malam mulai turun. Lampu-lampu kafe menyala lebih terang, namun mereka bertiga masih betah duduk. Ada kelegaan kecil setelah berbagi. Karena pada akhirnya, menjadi sandwich generation bukan soal seberapa berat beban yang dipikul, tapi bagaimana kita tetap bisa menjaga keseimbangan—tanpa harus menghancurkan diri sendiri.
Rina melihat ponselnya. Ada notifikasi dari ibu: “Makasih nak, berkah buat kamu.” Tersenyum tipis, dia membalas: “Sama-sama, Ma.”
Manis di luar, berat di dalam. Tapi setidaknya, sore ini dia tahu dia tidak sendiri.