Hari pertama masuk kerja setelah libur Lebaran selalu punya atmosfer yang sama: malas, berat, dan serasa ada beban tak kasat mata yang menempel di pundak. Bukan cuma soal fisik yang masih lelah setelah mudik, tapi lebih ke kondisi psikologis yang belum siap meninggalkan momen kebersamaan keluarga. Fenomena ini akrab disebut post-holiday blues, tapi kalau di kalangan anak muda sekarang, mereka lebih suka menyebutnya dengan istilah yang lebih santai—mager setelah Lebaran.
Tapi bagaimana sebenarnya fenomena ini dirasakan oleh mereka yang sudah berkutat di dunia kerja? Saya coba duduk bareng dengan tiga orang yang punya latar belakang berbeda: Andi, seorang supervisor di perusahaan startup; Laras, konsultan HR yang baru setahun menikah; dan Yoga, psikolog industri yang sering menangani masalah produktivitas karyawan. Ngobrol santai di kafe sore hari, kami membahas betapa "liar"nya rasa malas ini—seperti judul lagu Wild Bandito yang lagi viral—yang seolah membajak semangat kerja setelah sekian lama menikmati liburan.
Andi: "Bro, kemarin aku masuk hari pertama, rasanya tuh kayak... gimana ya, kayak dipaksa lari maraton padahal baru bangun tidur. Padahal libur cuma seminggu lebih dikit. Tapi pas buka laptop, lihat inbox penuh 200 email, rasanya pengen tutup lagi dan balik tidur."
Laras: "Itu klasik banget, Andi. Dari data yang aku lihat di kantor, tingkat absensi karyawan di hari pertama masuk setelah libur panjang itu selalu paling rendah. Bukan cuma karena macet atau masih di kampung halaman, tapi banyak juga yang sengaja ambil cuti tambahan karena... yaudahlah, masih males."
Yoga: "Secara psikologis, ini bukan soal malas, tapi lebih ke ketidakseimbangan transisi. Selama libur, tubuh dan pikiran kita masuk ke mode rest and digest. Kita bebas ngatur waktu, ketemu keluarga, makan enak, tidur cukup. Lalu tiba-tiba, kita dipaksa balik ke mode fight or flight karena deadline dan target. Itu transisi yang terlalu drastis."
Saya yang awalnya hanya jadi pengamat mulai ikut larut. Ternyata Andi nggak sendirian. Laras pun mengakui, meski setiap hari memberi seminar ke karyawan soal keseimbangan kerja, dirinya sendiri tetap merasakan pukulan psikologis setelah mudik pertama sebagai pengantin baru.
Laras: "Aku mikirnya, 'Ah, aman, aku kan di HR, pasti bisa atur mental sendiri.' Tapi kenyataannya, pagi pertama masuk kantor aku duduk di mobil hampir 20 menit sebelum turun. Aku sempat bilang ke suami, 'Yah, kayaknya aku kena post-holiday blues nih.' Suamiku malah ketawa dan bilang, 'Ya elah, kamu kan yang biasanya ngasih seminar ke karyawan soal ini. Kok kena juga?'"
Andi: "Nah, itu dia. Kadang kita yang paling ngerti teorinya, tetap ngerasain juga."
Yoga: "Justru itu yang menarik. Banyak orang kemudian merasa bersalah karena nggak langsung produktif. Mereka pikir, 'Ah, aku aja yang lemah,' atau 'Kenapa sih aku susah banget fokus?' Padahal ini respons biologis yang wajar. Ada perubahan kadar kortisol dan dopamin saat kita balik kerja. Yang jadi masalah adalah ketika kita menekan diri terlalu keras."
Dari situ, Yoga menjelaskan lebih lanjut. Salah satu penyebab utama mager setelah Lebaran adalah ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri. Kita berharap bisa langsung melesat seperti sebelum libur, padahal tubuh butuh waktu adaptasi. Andi mengangguk-angguk sambil mengorek-ngorek es kopinya yang mulai mencair. "Iya, kayak ada rasa bersalah gitu kalau pagi pertama cuma bisa baca-baca email tanpa ngerjain sesuatu yang besar."
Suasana kafe sore itu terasa hangat, apalagi ketika Laras bercerita bahwa ia sempat overthinking karena harus langsung menghadapi rapat evaluasi kinerja tim di hari kedua. "Padahal secara sadar aku tahu, nggak ada yang mengharapkan aku langsung superproduktif. Tapi tekanan dari dalam diri sendiri itu lebih serem daripada target dari bos," ujarnya sambil tertawa kecil. Yoga membenarkan: itu yang disebut self-imposed pressure, dan biasanya memperparah post-holiday blues.
✧ Menjinakkan "Mager" Tanpa Drama ✧
Memasuki obrolan menjelang sore, kami beralih ke bagian yang paling ditunggu: bagaimana mengatasi rasa malas yang liar ini. Bukan dengan motivasi instan yang bombastis, tapi langkah-langkah realistis yang benar-benar bisa dilakukan di dunia kerja yang kadang nggak kenal ampun.
Andi: "Sejak tahun lalu, aku mulai terbiasa bikin daftar prioritas sebelum libur dimulai. Jadi pas balik, aku nggak perlu panik lihat email satu-satu. Aku urutin mana yang urgent dan mana yang bisa nunggu. Lumayan membantu, sih, meskipun tetep ada rasa berat di awal."
Laras: "Di tempatku, tahun ini kita coba kebijakan soft opening setelah Lebaran. Hari pertama masuk, kita adakan sarapan bareng dulu, nggak langsung meeting produktif. Biar karyawan punya waktu sekadar ngobrol, cerita pengalaman mudik, terus perlahan-lahan mulai kerja. Responsnya lumayan bagus."
Yoga: "Itu pendekatan yang tepat. Transisi nggak harus tiba-tiba. Kalo bisa, atur jadwal kerja di hari-hari pertama dengan aktivitas yang lebih ringan. Misalnya, meeting internal dulu, baru setelah itu mulai handle klien. Juga penting untuk tetap jaga rutinitas yang sudah terbentuk selama libur, kayak waktu makan siang bareng keluarga bisa diganti dengan makan siang bareng tim. Jadi rasa koneksinya nggak hilang total."
Saya pun bertanya, apakah tidak apa-apa membiarkan diri merasa mager beberapa hari? Yoga tersenyum, "Justru nggak apa-apa. Kasih waktu satu sampai tiga hari untuk tubuh beradaptasi. Tapi batasin. Jangan sampai berlarut-larut sampai dua minggu. Kalau sudah lebih dari itu dan mulai mengganggu pekerjaan atau hubungan dengan rekan kerja, mungkin saatnya introspeksi atau bahkan konsultasi."
Laras menimpali dengan nada lebih rileks, "Di kantor aku juga kasih tahu tim HRD untuk nggak bikin meeting berat di hari pertama. Dulu kita sering maksa buat weekly review langsung, hasilnya banyak yang kaku dan datanya ngaco. Sekarang kita coba coffee morning dulu, baru mulai kerja perlahan. Efeknya lumayan, orang lebih antusias."
Kami semua tertawa ketika Andi bilang, "Paling penting sih, jangan ekspektasi diri sendiri kayak superman. Gue tahun lalu pas masuk kantor setelah lebaran, gue paksa lembur karena ngerasa bersalah, ujung-ujungnya malah sakit kepala dua hari. Sekarang gue lebih bijak: kerjain yang penting dulu, sisanya ngalir aja."
✧ Wajar, Tapi Jangan Dibiasakan ✧
Di akhir perbincangan, kami sepakat bahwa post-holiday blues atau mager setelah Lebaran adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Bukan tanda kelemahan, bukan juga alasan untuk menghindari tanggung jawab. Tapi seperti yang dikatakan Andi sambil bersiap pulang, "Yaudah, kita boleh mager, tapi jangan jadi gaya hidup. Abis ini kan harus balik kerja beneran."
Saya pulang dengan catatan kecil di ponsel: transisi butuh waktu, ekspektasi harus dikelola, dan yang terpenting—jangan merasa sendirian saat mengalami ini. Karena pada akhirnya, hampir semua orang mengalaminya. Bedanya hanya seberapa cepat kita bisa bangkit lagi. Dan mungkin, di situlah letak dewasa kita dalam bekerja: bukan soal tidak pernah merasa malas, tapi soal bagaimana tetap bisa bergerak meski rasa malas itu masih ada.
Pesan dari ketiga tokoh tadi: Jika kamu sedang merasakan beratnya kembali ke rutinitas kantor pasca Lebaran, cobalah satu atau dua langkah kecil. Ngobrol dengan rekan kerja, prioritaskan tugas, dan beri ruang bagi diri sendiri untuk bernapas. Seperti kata Yoga, "Transisi yang lembut akan membuat performa kerja lebih stabil, bukan malah cepat burnout."
— dari obrolan santai di kafe, untuk siapapun yang lagi berdamai dengan semangat kerja pasca libur